MAKALAH: DIVERSIFIKASI PRODUK JAHE MERAH DI KABUPATEN HALMAHERA BARAT UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

29 Apr

MAKALAH

 DIVERSIFIKASI  PRODUK  JAHE  MERAH 

DI  KABUPATEN  HALMAHERA  BARAT

UNTUK  KESEJAHTERAAN  MASYARAKAT

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

 

Kristivani Tajibu

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

SEKOLAH TINGGI PERTANIAN KEWIRAUSAHAAN (STPK) BANAU  HALMAHERA  BARAT

2012


HALAMAN  PENGESAHAN

 

1. Judul Makalah          :    Diversifikasi Produk Jahe Merah di Kabupaten Halmahera Barat untuk Kesejahteraan Masyarakat

 

2. Bidang                      :    Pertanian

 

3. Ketua Peneliti :

a. Nama Lengkap     :    Kristivani Tajibu

b. Jenis Kelamin       :    Perempuan

c. NPM                     :    12355211110001

d. Program Studi      :    Agroekoteknologi

e.  Alamat                 :    Desa Balisoan, Kec. Sahu,

                                        Kab.Halmahera Barat, Prov. Maluku Utara

i.  Telepon/E-mail   :      Hp. 085756005706

                                     

 

 

                                                                                                  

                                                                              Jailolo, Apri 2012           

                 Mengetahui,                                                        Penulis,

              Ketua Program Studi

      

 

 

           Ir. Amesius Basai, M.Si                                  Kristivani Tajibu

            NIDN. 1217016603                                   

 

 


 

DAFTAR  ISI

 

Halaman Pengesahan ………………………………………………………………….            i

Daftar isi ………………………………………………………………………………….             ii

Bab I     Pendahuluan  …………………………………………………………………           1

Bab II    Perumusan Masalah  ……………………………………………………….           2

Bab III  Tinjauan Pustaka

              3.1 Deskripsi Tanaman Jahe Merah ……………………………………         3

              3.2  Produk dan Syarat Mutu Jahe Merah ……………………………..       4

              3.3  Diversifikasi produk jahe merah …………………………………..         4

              3.4  Kerangka Pemikiran Operasional  ……………………………….          5

BabIV   Tujuan Penelitian …………………………………………………………….          7

Bab V    Metode Penelitian

              5.1  Jahe merah kering ……………………………………………………..          8

              5.2  Rimpang Segar ………………………………………………………….         10

              5.3  Analisis usaha instan jahe merah …………………………………          10

BabVI   Penutup …………………………………………………………………………..        13

Daftar  Pustaka

 

 BAB I.

PENDAHULUAN

 

Potensi lahan dan keanekaragaman hayati di Indonesia memungkinkan untuk dilakukannya pengembangan tanaman biofarma yang beranekaragam. Hal ini didukung oleh beberapa faktor diantaranya: kondisi trend kenaikan harga obat-obatan, meningkatnya kesadaran individu untuk meningkatkan kualitas kesehatannya, meningkatnya kesadaran masyarakat untuk lebih fokus pada prinsip kesehatan “mencegah lebih baik daripada mengobati”, kesadaran masyarakat akan bahaya mengkonsumsi obat-obat kimia dalam jangka waktu yang lama dan permintaan konsumen akan natural products (Nurul, 2008).

Berdasarkan khasiatnya, ada lima komoditi tanaman obat potensial yang dapat dikembangkan yaitu temulawak, kunyit, kencur, jahe, dan purwoceng. Tanaman jahe merupakan tanaman rempah-rempah sekaligus tanaman yang berfungsi sebagai bahan baku obat-obatan. Masyarakat Indonesia menggunakan rimpang jahe sebagai bumbu masakan, yang dapat memberikan aroma dan rasa pada makanan seperti roti, kue, biskuit, kembang gula dan berbagai jenis minuman. Jahe juga dapat digunakan sebagai bahan baku jamu tradisional, minyak wangi, serta berbagai produk olahan lainnya. Masyarakat luar negeri juga menggunakan jahe sebagai bahan baku untuk aneka macam produk, sehingga jahe juga merupakan salah satu komoditi ekspor yang dapat diandalkan (Andoko dan Harmono, 2005).

Selama ini di Indonesia, berdasarkan pada bentuk, warna dan aroma rimpang serta komposisi kimianya dikenal 3 tipe jahe, yaitu jahe putih besar, jahe emprit dan jahe merah. Karena kadar minyak atsiri dan oleoresin jahe merah lebih tinggi dibandingkan kedua tipe jahe lainnya maka tanaman ini sangat cocok digunakan sebagai bahan baku obat-obatan atau jamu.

 


 

BAB II.

PERUMUSAN MASALAH

 

Jahe merah merupakan salah satu tanaman rempah yang dibudidayakan secara tradisional di Kabupaten Halmahera Barat. Walaupun memiliki prospek ekonomi yang cukup baik, karena banyak digunakan sebagai bahan baku obat-obatan, makanan, dan minuman, namun pada kenyataannya, prospek tersebut belum didukung oleh kondisi yang ada saat ini.

Di sektor hulu, petani jahe merah pada umumnya tidak memiliki pengetahuan tentang teknik budidaya yang efektif dan efisien, yang pada akhirnya mengakibatkan petani mengalami kerugian. Kurangnya informasi pasar mengakibatkan petani tidak mengetahui jalur pemasaran yang paling menguntungkan untuk produknya.

Petani juga belum menyadari betapa pentingnya kualitas dari hasil produksi, sehingga mutu dari tiap simplisia seringkali tidak sama. Terkadang ditemui rimpang jahe merah yang terlalu besar kandungan seratnya dan memiliki kandungan air yang terlalu berlebihan sehingga dapat berpengaruh pada proses pengolahannya. Hal tersebut juga disebabkan karena aktivitas sortasi dan grading yang cenderung tidak dilakukan secara optimal pada saat pasca panen.

Konsumen jahe merah yaitu Industri Obat Tradisional (IOT), Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT), maupun Usaha Jamu Racikan, lebih memilih untuk membeli jahe merah segar tidak langsung ke petani melainkan ke pedagang pengumpul. Permasalahan lain yang dihadapi industri pengolah adalah kurangnya pemanfaatan teknologi yang handal dalam proses pengolahan sehingga produk yang dihasilkan kualitasnya belum maksimal dan hasil produk olahannya masih terbatas.

Selain itu, proses produksi jahe merah menjadi produk akhir terutama menjadi obat tradisional atau yang lebih dikenal dengan jamu belum menggunakan prosedur Good Manufacturing Practices (GMP) secara intensif dan menyeluruh. Keterbatasan pengetahuan petani akan pengolahan jahe merah menjadi berbagai produk menyebabkan jahe merah segar yang dipanen sampai saat ini hanya dijual dalam bentuk mentah dan kering sehingga harga jualnya di pasaran rendah.Apabila tidak ada permintaan pasar, maka rimpang jahe merah yang terlanjur dipanen akan mengalami kerusakan bahkan tidak jarang mengalami gagal panen.

 

BAB III.

TINJAUAN PUSTAKA

 

3.1  Deskripsi Tanaman Jahe Merah

Jahe merah (Zingiber officinale Linn. Var. rubrum) termasuk salah satu komoditas obat dan rempah yang juga merupakan prioritas dalam temu-temuan. Dalam industri farmasi, jahe merah banyak digunakan untuk obat dalam (oral) dan obat luar (Yuliani, 2009).

Jahe merah tergolong pada tumbuhan semak yang memiliki umbi batang dan rimpang. Batangnya merupakan batang semu, terdiri dari pelepah-pelepah daun yang berpadu. Tinggi batang antara 40 sampai 60 cm, bahkan bisa mencapai 1 meter. Umbi batang dan rimpang tumbuh menjalar di dalam tanah secara mendatar. Umbi batangnya tumbuh memanjang, bercabang-cabang dengan cara bertunas. Tunas-tunas inilah yang dikenal dengan rimpang, berupa bonggol beruas-ruas, yang memiliki aroma yang khas dan rasa yang pedas. Warna rimpang merah, berukuran kecil dan berserat kasar. Di sekitarnya terdapat akar-akar serabut yang lebih banyak terdapat pada bagian bawah rimpang.

Jahe merah hendaknya dibudidayakan di tanah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik (humus) dan berdrainase baik untuk mendapatkan rimpang jahe yang gemuk dan berdaging. Pengembangan jahe merah umumnya dilakukan pada tanah-tanah latosol, aluvial, podsolik merah kuning yang cukup subur dan andosol yang mengandung bahan organik relatif tinggi. Tanaman jahe merah tidak dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki banyak genangan air (drainase buruk), tanah rawa, tanah liat berat, dan pada tanah yang didominasi oleh kandungan pasir kasar atau kerikil (Rusli dan Sofyan et al.,1987 dalam Anonimous, 2006).

Klasifikasi tanaman jahe merah adalah sebagai berikut :

Divisi               : Spermatophyta

Sub divisi        : Angiospermae

Kelas               : Monocotyledoneae

Ordo                 : Zingiberales

Famili              : Zingiberacea

Genus               : Zingiber

Spesies             : Zingiber officinale Linn. var Rubrum

 

Sentra produksi jahe merah di Indonesia terdapat di Sumatera, Bengkulu, dan Lampung. Jahe merah selalu dipanen setelah berumur 8 – 9 bulan. Jahe ini memiliki kandungan minyak atsiri paling tinggi dibandingkan jahe besar dan jahe kecil, yakni sebesar 4% sehingga cocok untuk ramuan obat-obatan. Penanaman jahe merah oleh petani biasa digunakan untuk obat, minyak atsiri dan oleoresin. Di Halmahera Barat, masyarakat hanya memanfaatkan jahe merah sebagai obat tradisional dan bumbu masak.

Beberapa hal yang harus diperhatikan oleh petani untuk mendapatkan produksi jahe merah yang optimal selain dengan pembibitan yang baik adalah melalui cara penanaman yang benar dan pemeliharaan yang meliputi penyulaman, penyiangan, pembumbunan (penggemburan), pemberian serasah (mulching), serta pemupukan. Pengendalian hama dan penyakit yang dapat mengganggu hasil produksi jahe merah juga dibutuhkan, karena salah satu kendala pengembangan komoditas jahe merah adalah penyakit layu bakteri (Pseudomonas solanacearum) yang menyebabkan turunnya produksi dan mutu.

3.2 Produk dan Syarat Mutu Jahe Merah

Tanaman jahe merah dapat dijual dalam bentuk jahe segar maupun dalam bentuk olahan lainnya seperti bubuk jahe, jahe kering, minyak atsiri, dan oleoresin. Jahe merah segar lebih banyak dikonsumsi oleh pasar domestik untuk kepentingan kesehatan. Hal ini terkait dengan kebiasaan orang Indonesia yang sejak dulu sudah gemar mengkonsumsi tanaman obat termasuk jahe merah.

Selain untuk memenuhi permintaan pasar domestik, jahe merah segar maupun bentuk olahan lainnya dapat diekspor. Jahe merah dan produk olahan jahe merah harus memenuhi syarat-syarat mutu yang telah ditetapkan agar lebih bisa bersaing di pasaran. Secara umum, jahe merah mengandung 3,9% minyak atsiri, 44,99% kadar pati, 7,46% kadar abu, serta 43,65% kadar serat. Berikut ini merupakan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi sehingga jahe merah dan produk olahan jahe merah bisa dipasarkan di dalam maupun di luar negeri (Yuliani, 2009).

 

3.3  Diversifikasi Produk jahe merah

Rimpang jahe merah setelah dipanen dan dibersihkan, dapat langsung dipasarkan atau dapat diolah menjadi produk lain.Peningkatan nilai tambah melalui pengolahan rimpang jahe merah menjadi berbagai produk (diversifikasi) berpeluang besar dikembangkan pada skala industri rumah tanggadan merupakan salah satu aspek usaha untuk pemenuhan kebutuhan industri serta peningkatan pendapatan petani.Berbagai produk olahan jahe merah dapat dilihat pada gambar berikut.

Gula jahe merah

Jahe merah kering

Rimpang segar

Jahe merah

Oleoresin Jahe merah

Minyak Jahe merah

Bubuk jahe merah merah

Instan jahe merah

Sirup jahe merah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Bagan Hasil Olahan Jahe Merah

(Sumber : Trubus, 1999)

 

3.4  Kerangka Pemikiran Operasional

Rendahnya mutu jahe merah segar danfaktor produksi yang tidak lancar di Kabupaten Halmahera Barat mendorong dilakukannya berbagai upaya pengembangan bisnis jahe merah agar dapat memberikan manfaat (benefit) yang optimal kepada para pelaku agribisnisnya, baik di sektor hulu (dalam hal ini adalah petani jahe merah) maupun di sektor hilir (dalam hal ini adalah pengusaha industri pengolahan jahe merah).

Konsep manajemen strategi digunakan untuk merumuskan alternatif strategi yang diharapkan dapat menjadi solusi handal bagi permasalahan agribisnis jahe merah di Kabupaten Halmahera Barat seperti yang dikemukakan sebelumnya. Proses perumusan strategi dimulai dengan mengidentifikasi lingkungan internal bisnis jahe merah di Kabupaten Halmahera Barat sehingga hal-hal yang menjadi kekuatan dan kelemahan dari bisnis tersebut bisa diidentifikasi dan dinilai. Pengidentifikasian lingkungan eksternal bisnis jahe merah di Kabupaten Halmahera Barat juga perlu dilakukan untuk mengetahui hal-hal yang menjadi peluang sekaligus ancaman yang dihadapi oleh bisnis tersebut.

Hasil identifikasi tersebut selanjutnya dimasukkan ke dalam kerangka kerja perumusan strategi dengan menggunakan alur pemikiran seperti yang disajikan pada Gambar 2.

Potensi ekonomi jahe merah di Halmahera Barat

Pengembangan bisnis jahe merah di Halmahera Barat

Terbatasnya kuantitas penjualan produk jahe merah

Rendahnya kualitas produk jahe merah

Formulasi strategi

Pemilihan strategi utama dengan AHP

Prioritas alternatif strategi pengembangan bisnis jahe merah di Halmahera Barat

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Kerangka Pemikiran Perumusan Strategi Peningkatan

Potensi Ekonomi Jahe Merah Halmahera Barat

 

 

 

 


BAB IV.

TUJUAN PENULISAN

           

          Melimpahnya hasil produksi jahe merah di Halmahera Barat tidak serta merta meningkatkan kesejahteraan petani jahe merah. Salah satu faktor penyebabnya adalah terbatasnya diversifikasi produk jahe merah yang dipasarkan.Makalah ini berisi berbagai usaha pengolahan produk  jahe merah sebagai bagian dari strategi peningkatan potensi ekonomi Jahe merah Halmahera Barat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 


 

BAB V.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 

Beberapa contoh diversifikasi produk jahe merah yang potensial dikembangkan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, yakni bubuk jahe merah, minyak  jahe merah, oleoresin jahe merah, instan jahe merh, dan sirup jahe merah.

5.1         Jahe Merah Kering

Pengembangan produk jahe merah kering sangat menguntungkan dan mampu mencegah terjadinya pengurangan kualitas dan flavour  jahe merah segar akibat terlalu lama disimpan. Beberapa produk yang dapat dikembangkan, yaitu:

Bubuk Jahe Merah

Bubuk jahe merah dibuat dari jahe merah kering kemudian digiling dengan hammer mill dengan ukuran 50-60 mesh (Purseglove et al.,1981 dan Rusli, 1986 dalam Yuliani, 2009). Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu bubuk jahe merah diantaranya ukuran partikel, kadar air dan kadar minyak atsiri. Bubuk jahe merah dengan ukuran pertikel 50-60 mesh biasanya digunakan untuk pembuatan oleoresin atau minyak jahe merah, sedangkan bubuk jahe merah untuk dikonsumsi perorangan atau rumah tangga ukuran partikelnya lebih halus yaitu 80 mesh.

   Bubuk jahe merah biasanya mengalami penyimpanan cukup lama mulai dari diproduksi hingga sampai ke tangan konsumen. Agar bubuk ini masih awet saat akan digunakan maka perlu diperhatikan kadar airnya, persyaratan kadar air menurut British standar maksimal 12%. Penyimpanan sebaiknya dalam wadah/kemasan bersih, tertutup rapat bebas hama dan jamur serta kadar airnya tidak terlalu tinggi yaitu sekitar 10%. Persyaratan kadar minimal minyak atsiri untuk bubuk jahe merah adalah 1,5%. Untuk menghasilkan bubuk jahe merah dengan kadar minyak diatas 1,5 % sebaiknya dipilih dari bahan baku yang cukup umur yaitu 9 bulan dimana pada umur tersebut kandungan minyak atsirinya dalam keadaan optimal.

Minyak Jahe Merah

Minyak jahe merah dapat diperoleh dengan cara penyulingan. Bahan baku yang digunakan berasal dari bahan baku kering yang diambil dari jahe merah segar berumur 9 bulan. Sebelum disuling jahe merah kering digiling kasar dengan alat hammer mill, selanjutnya segera disuling supaya minyak atsirinya tidak menguap.

Ada tiga metode penyulingan, yang pertama metode uap langsung, metode uap dan air biasa (metode kukus), dan metode perebusan. Penyulingan dengan bahan jahe merah kering lebih cocok dilakukan dengan cara dikukus. Bila jahe merah yang disuling dalam jumlah banyak, maka sebaiknya jahe merah dalam ketel dibagi atas beberapa fraksi untuk memudahkan dan mematahkan aliran uap dengan kerapatan bahan dalam ketel (bulk density) 200-800 g/l. Proses penyulingan jahe merah ini membutuhkan waktu 8 jam dengan rendamen minyak 3-4,5%. Untuk jahe basa sebaiknya disulin dengab sistem uap langsung dengan tekanan 2,5 atm (Rusli dan Risfaheri, 1992 dalam Anonimous, 2006).

Oleoresin Jahe Merah

Oleoresin jahe merah merupakan campuran yang homogen antara resin dan minyak atsiri yang diperoleh darihasil ekstraksi jahe merah kering menggunakan pelarut organik. Oleoresin jahe merah mempunyai rasa yang pedas dan aroma yang cukup kuat seperti jahe merah dalam bentuk segar. Bentuk oleoresin adalah cairan pekat berwarna cokelat tua. Oleoresin umumnya digunakan dalam industri kue, daging, makanan kaleng, dan bumbu masak.

Oleoresin mempunyai berbagai keuntungan diantaranya adalah bentuknya seragam, terstandarisasi, kandungan senyawa aktifnya lengkap, bersih, bebas dari cemaran mikroba, kadar airnya sangat redah atau hampir tidak ada, dan mempunyai masa simpan yang cukup lama. Ekstraksi oleoresin dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu penyiapan bahan sebelum ekstraksi, jenis pelarut, metode dan kondisi proses ekstraksi dan proses pemisahan atau penguapan pelarut dari hasil ekstraksi. Pelarut yang paling umum digunakan adalah alkohol karena memiliki beberapa keuntungan yaitu mempunyai titik didih rendah, aman tidak beracun dan tidak mudah terbakar.

Oleoresin bersifat sensitif, terhadap cahaya, panas dan oksigen sehingga mempunyai masa simpan yang terbatas. Selain itu, bentuknya berupa cairan kental yang lengket menyulitkan penanganannya


 

5.2         Rimpang Segar

Jahe merah segar selain dapat digunakan sebagai bumbu masak dan obat tradisional, dapat pula diolah menjadi:

Instan Jahe Merah

Instan jahe merah dapat dibuat dari rimpang jahe merah segar, yang dicuci bersih kemudian diparut atau diblender, dan disaring untuk memperoleh ekstrak jahe merah. Ekstrak jahe merah dimasak dengan gula, tanaman herbal, kopi atau susu hingga kental. Adonan selanjutnya dipanaskan hingga kering dan berbentuk kristal. Untuk memperoleh instan jahe merah yang memiliki daya simpan tinggi, kristal dihaluskan untuk memperkecil partikel dan mengurangi kadar air, kemudian disimpan di dalam wadah tertutup.

Sirup Jahe Merah

Sirup jahe merah merupakan salah satu bentuk diversifikasi produkjahe merah segar. Cara pengolahannya dengan mirip dengan pembuatan instan jahe merah. Pertama, rimpang jahe mareh dicuci bersih, dikupas kemudian diblender untuk memperoleh ekstrak. Pengolahan jahe merah menjadi sirup jahe merah dilakukan dengan cara mencampurkan ekstrak jahe merah dan tanaman herbal hingga mendidih. Diamkan dan saring larutan jahe merah selama 2x dengan kain sampai bersih. Sari jahe merah tersebut direbus kembali dan ditambahkan gula pasir ke dalamnya. Untuk mengemas sirup jahe merah, digunakan botol yang terlebih dahulu disterilkan dengan cara dikukus selama 20 menit pada air mendidih. Dalam keadaan panas, sirup dimasukan dalam botol hingga tersisa jarak 3-4 cm dari ujung botol. Botol ditutup dan disegel. Untuk mencegah pertumbukan mikroba, sirup dipasteurisasi dengan cara merendam sirup dalam air mendidih selama 30 menit.

5.3         Analisis usaha instan jahe merah

Manfaat diversifikasi produk jahe merah adalah meningkatkan nilai jual jahe merah segar dipasaran untuk kesejahteraan petani. Perbandingan keuntungan yang diperoleh dari jahe merah segar dan jahe merah olahan dapat dilihat melalui analisis usaha yang dilakukan. Salah satunya adalah analisis usaha pengolahan instan jahe merah. Untuk mengetahui tingkat keuntungan yang diperoleh dari usaha pengolahan instan jahe, perlu diketahui terlebih dahulu total biaya produksi dan nilai jual biaya produksi (pendapatan).


 

a.              Biaya produksi

Biaya produksi untuk usaha instan jahe merah, dapat dilihat pada tabel berikut.

No

Uraian

Volume

Satuan

Harga satuan

Jumlah

1

Jahe merah segar

1

kg

Rp     6.000

Rp   6.000

2

Gula

1

kg

Rp   12.000

Rp12.000

3

Susu

1

Kaleng

  Rp     6.000

     Rp   6.000

4

Kayu manis

1

Ikat

  Rp     1.000

     Rp   1.000

5

Daun pandan

1

ikat

  Rp     1.000

     Rp   1.000

6

Kemasan plastik

1

pak

  Rp     6.000

     Rp   6.000

Total

     Rp32.000

 

b.             Pendapatan dan keuntungan

Pengolahan 1 kg jahe merah segar, dapat menghasilkan 35 sachet instan jahe merah dengan berat 150 gr/sachet. Jika harga jual instan jahe merah Rp2.000,-/sachet, maka pendapatan dan keuntungan dapat dihitung sebagai berikut.

 

Pendapatan = jumlah produksi × harga jual

                    = 35 sachet × Rp2.000,-

                    = Rp 70.000,-

Keuntungan = pendapatan – total biaya produksi

                     = Rp70.000,-  –  Rp32.000,-

                     =  Rp38.000,-

c.              Analisis kelayakan usaha

Analisis kelayakan usaha pengolahan instan jahe merah, dihitung melalui efisiensi penggunaan modal (return of investment) atau ROI dan rasio keuntungan dengan biaya (benefit cost ratio) atau B/C.

Return of investment

ROI=

       =

       = 2.187

Berarti usaha pengolahan instan jahe merah dengan nilai ROI  2.187, menunjukkan bahwa penggunaan modal sebesar Rp1.000,- akan memperoleh Rp2.187,-

Benefit cost ratio (B/C)

Merupakan salah satu cara untuk mengukur kelayakan usaha pengolahan instan jahe merah. B/C merupakan ratio antara keuntungan dengan total biaya produksi.

B/C =

       =

        = 1.19

Nilai B/C yaitu 1,19. Artinya, setiap pengeluaran Rp1,- maka keuntungan yang diterima sebesar Rp 1.19,-. Dengan demikian usaha ini layak dilakukan.

 


 

BAB VI.

PENUTUP

 

Jahe merah termasuk rempah yang banyak digunakan dan diperdagangkan  dalam bentuk segar, kering maupun produk olahannya. Sebelum diolah lebih lanjut, saat disimpan jahe merah segar memiliki beberapa kerugian seperti memerlukan banyak tempat (bulky), mutu dan flavor bervariasi tergantung pada umur, selama penyimpanan memungkinkan kehilangan minyak atsiri atau komponen lainnya.

Diversifikasi atau pengembangan produk jahe merah dalam berbagai bentuk produk antara maupun produk jadi sangat menguntungkan dan belum jenuh.Hal ini disebabkan karena permintaan pasar yang cukup tinggi baik di dalam maupun di luar negeri  dengan demikian memberikan peluang untuk dikembangkan  secara serius oleh petani, industri makanan dan minuman juga industri farmasi khususnya di kabupaten Halmahera Barat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pengembangan produk jahe merah  menjadi produk antara dapat diusahakan di industri kecil seperti rumah tangga, UKM maupun industri kecil obat tradisional (IKOT), karena pengolahannya tidak menggunakan pengolahan tinggi, sedangkan untuk peroduk jadi (tertentu) biasanya digunakan dalam skala besar dan menggunakan teknologi tinggi sehingga umumnya dilakukan oleh industri makanan atau industri farmasi. Bagi pengembang awal yang berminat untuk mengusahakan produk jahe merah, disarankan untuk memilih produk bubuk jahe dan instan jahe, selain pengolahannya mudah dan murah, resikonyapun sangat kecil.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Andoko, A. dan Harmono. 2005. Budidaya dan Peluang Bisnis Jahe. Agromedia Pustaka. Jakarta.

 

Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka. 2006. Analisa Usaha Tani Tanaman Biofarmaka. Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian. Jakarta.

 

                                             2006. Penguatan Kelembagaan Kemitraan Usaha Agribisnis Tanaman Biofarmaka. Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian. Jakarta.

 

                                             2006. Profil Sentra Produksi Tanaman Jahe (Zingiber officinalle). Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian. Jakarta.

 

Direktorat Tanaman Sayuran, Hias dan Aneka Tanaman. 2002. Potensi Bioregional Tanaman Obat Indonesia. Direktorat Jenderal Bina Produksi Hortikultura, Departemen Pertanian. Jakarta. 83

 

Harjanto dan Eka Intan K.P. 2006. Studi Strategi Keunggulan Bersaing Ekspor Agromedicine Jahe. Pusat Studi Biofarmaka. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

 

 

Nurul. 2008. Strategi pengembangan bisnis jahe (zingiber officinale rosc.) di Indonesia. Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.

 

Yuliani, 2009. Pengembangan Produk Jahe Kering Dalam Berbagai Jenis Industri. Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian vol. 5.

 

About these ads
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: