Penuntun Praktikum Dasar llmu Tanah dan Air

29 Apr

Praktikum  I

PENENTUAN  TEKSTUR  TANAH

 

Tujuan

Setelah menyelesaikan praktikum ini, mahasiswa dapat menetukan tekstur tanah.

 

Landasan Teori

Bahan mineral tanah terbentuk dari fragmen batuan, mineral primer dan mineral sekunder yang dijumpai dalam kisaran ukuran partikel, tergantung pada macam batuan induk dan aras pelapukan. Kisaran ukuran fragmen dan partikel sangat bervariasi mulai dari batu sampai lempung halus, untuk tujuan deskripsi dibedakan berdasarkan ukuran partikel. Ada beberapa sistim yang digunakan untuk menentukan ukuran partikel tanah. Sistim ukuran partikel tanah yang umum digunakan adalah British/MIT, sistim Jerman, dan sistim USDA. Dalam bidang ilmu tanah digunakan sistim USDA.

Definisi tekstur tanah menurut USDA adalah perbandingan relatif antar partikel tanah yang terdiri atas fraksi lempung, debu dan pasir. Tekstur tanah bersifat permanen dan mempunyai pengaruh yang besar terhadap sifat tanah yang lain seperti struktur, konsistensi, kelengasan tanah, permeabilitas tanah, run off, daya infiltrasi, dll.

Ukuran partikel tanah menurut USDA:

Jenis tanah

Diameter (mm)

Geluh pasiran (%)

Pasir sangat kasar

2,00-1,00

3,1

Pasir kasar

1,00-0,50

10,5

Pasir sedang

0,50-0,25

8,2

Pasir halus

0,25-0,10

25,3

Pasir sangat halus

0,10-0,05

22,0

Debu

0,05-0,002

21,1

Lempung

<0,002

 

Secara kualitatif, tekstur tanah dapat diamati di lapangan dengan cara diraba/diremas dalam keadaan lembap/basah, tetapi pengujian ini memerlukan pengalaman. Latihan yang dapat dilakukan adalah menguji tanah yang telah diketahui teksturnya di laboratorium.


 

Kemungkinan kesalahan yang sering dijumpai dalam pengamatan tekstur adalah:

a. kandungan air, tanah yang basah tampak lebih halus.

b. bahan organik, tanah tampak lebih lempungan.

c. bentuk partikel, bulat atau lempeng.

d. macam mineral lempung, dan

e. dispersi atau koagulasi.

 

Metode Kerja

1.      Ambil kurang lebih satu sendok makan tanah, pisahkan dari kerikil dan kotoran lain.

2.      Tetesi dengan air sedikit demi sedikit sampai tanah mendekati batas lekat (batas saat tanah mulai lekat di tangan).

3.      Ujilah teksturnya berdasarkan bentuk yang dapat dibuat.

Kelas tekstur lapangan meliputi:

NO

TEKSTUR

CIRI

1.

Pasir

Tanah tetap dalam keadaan lepas-lepas dan tampak butiran tunggal dan hanya dapat dibentuk seperti piramida.

2.

Pasir geluhan

Tanah cukup mengandung debu dan lempung untuk membuat tanah bersifat kohesi dan dapat dibentuk bola yang mudah retak.

3.

Pasir debuan

Seperti pasir geluhan, tetapi dapat dibentuk dengan cara digulung-gulung membentuk silinder yang pendek dan tebal.

4.

Geluh

Karena kandungan pasir, debu dan lempung hampir sama maka tanah akan mudah dibuat sosis dengan panjang 15 cm, yang akan retak atau patah jika dibengkokan.

5.

Gelum lempungan

Seperti geluh, tetapi bentuk sosis dapat dibengkokan seperti huruf U walaupun tidak dapat dibuat cincin.

6.

Lempung ringan

Tanah dapat dibuat seperti cacing kemudian seperti cincin, tetapi ada retakan.

7.

Lempung berat

Tanah dapat dibentuk seperti cincin tanpa menunjukan terjadinya retakan.

 

4.      Gambarkan kelas tekstur lapangan dan tentukanlah jenis tekstur tanah yang saudara miliki.


 

Praktikum  II

SIFAT  FISIK  DAN  KIMIA  TANAH

Tujuan

Setelah menyelesaikan praktikum ini, mahasiswa dapatmengidentifikasi sifat fisik dan kimia tanah.

Landasan Teori

Komposisi tanah – bahan mineral, bahan organik, air dan udara – tidak tercampur begitu saja, tetapi tersusun sebagai suatu tubuh yang terorganisasi (pedon) dengan struktur dan sifat fisik-kimia sebagai hasil pencerminan sifat dari masing-masing partikel yang tersusun sebagai sistim tanah (pedosistim) sifat tanah yang berbeda merupakan hasil proses yang terjadi di dalam suatu lingkungan dan sistim pengelolaan yang dilaksanakan.

Beberapa sifat fisik penting tanah, antara lain:

1.      Struktur tanah

2.      Kerapatan partikel (BJ) adan kerapatan lindak (BV)

3.      Konsistensi

4.      Temperatur tanah, dan

5.      Warna tanah

Sedangkan sifat kimia penting tanah meliputi :

1.      Pertukaran ion

2.      pH tanah, dan

3.      sifat redoks tanah

Konsistensi tanah diartikan sebagai bentuk kerja kakas (force) fisik adhesi dan kohesi partikel-partikel tanah pada berbagai tingkat kelengasan (Baver et al., 1972). Bentuk kerja tersebut tercermin antara lain pada ketahanan tanah terhadap gaya tekanan, gaya gravitasi dan tarikan, serta kecenderungan massa tanah untuk melekat satu sama lain atau terhadap benda lain.

Dua faktor utama yang mempengaruhi konsistensi tanah, yaitu kondisi kelengasan tanah (kering, lembap, basah) dan tekstur tanah (terutama kandungan lempung). Konsistensi tanah penting untuk menentukan cara pengolahan tanah yang baik, juga penting bagi penetrasi akar tanaman di lapisan bawah dan kemampuan tanah menyimpan lengas. 

Reaksi kimia tanah diukur dan ditulis dengan pH, sama dengan -log[H+], berkisar antara 10-1 sampai 10-12 mol/liter. Makin tinggi konsentrasi ion H+, makin rendah –log[H+] atau pH tanah, dan makin asam reaksi tanah. Pengukuran pH tanah di lapangan dengan prinsip kolorimeter atau menggunakan pH meter.

Skala keasaman tanah:

Tingkat keasaman                                luar biasa;   sangat kuat; kuat;    sedang;  agak;        agak;      kuat;      luar biasa

Keasaman tanah disebabkan oleh kandungan kation dalam batuan induk (pelapukan), respirasi akar tanaman, kegiatan perakaran (humifikasi bahan organik menghasilkan asam fulvat dan humat), pencemaran, dan pemupukan dengan pupuk buatan.

Sifat asam dan basa tanah dapat diketahui menggunakan indikator. Indikator yang sering digunakan antara lain pH indikator, kertas lakmus, fenolftalein, metil merah dan brom timol biru. Indikator tersebut akan memberikan perubahan warna jika ditambahkan larutan asam atau basa. Indikator ini biasanya dikenal sebagai indikator sintetis. Dalam pembelajaran kimia khususnya materi asam dan basa indikator derajat keasaman diperlukan untuk mengetahui pH suatu larutan.

Penentuan sifat asam basa menggunakan indikator sintesis dapat diganti dengan alternatif lain berupa indikator pH dari bahan-bahan alam atau tanaman. Beberapa bahan alam yang dapat digunakan sebagai indikator alami yaitu kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis),  bunga tapak dara (Vinca rosea U), bunga jengger ayam (Celosia cristata L), dan bunga tembelekan (Lantara camara L) dengan didasari pemikiran bahwa zat warna pada tanaman merupakan senyawa organik berwarna seperti dimiliki oleh indikator sintetis.

 

Metode Kerja

A. Penentuan konsistensi tanah

1.      Ambil kurang lebih satu sendok makan tanah, pisahkan dari kerikil dan kotoran lain.

2.      Tetesi dengan air sedikit demi sedikit sampai tanah mendekati batas lekat (batas saat tanah mulai lekat di tangan).

3.      Ujilah teksturnya berdasarkan konsistensinya.

KONSISTENSI

CIRI

 

 

 

 

Kelekatan

Tidak lekat

Setelah tekanan dilepaskan, tidak ada tanah yang melekat pada ibu jari atau telunjuk

Agak lekat

Setelah tekanan dilepaskan, sebagian tanah masih melekat pada ibu jari dan telunjuk, tetapi salah satu jari tampak lebih bersih.

Lekat

Setelah tekanan dilepaskan, bahan masih melekat di kedua jari dan cenderung lekat pada salah satu jari.

Sangat lekat

Setelah tekanan dilepaskan, bahan tanah melekat kuat pada kedua jari.

 

 

 

Plastisitas

Tidak plastis

Tanah tidak dapat dibentuk seperti sosis panjang

Agak plastis

Tanah dapat dibentuk seperti sosis panjang, tetapi mudah pecah/patah.

Plastis

Tanah dapat dibentuk seperti sosis dn diperlukan lebih banyak tekanan untuk mengubah massa tanah.

Sangat plastis

Tanah dapat dibentuk seperti sosis dan diperlukan lebih banyak tekanan untuk mengubah bentuk massa tanah.

 

4. Tentukanlah jenis konsistensi tanah yang saudara miliki.

 


 

B. Penentuan pH tanah

Alat dan bahan

• Alat
Pisau

Papan pengiris

Botol kaca

Corong

Pipet tetes
labu erlenmeyer

Buret dan statif

Pengaduk

Soil pH meter

• Bahan :

Kertas pH indikator

Kertas label

Kertas saring
Kembang sepatu, diambil mahkotanya, dicuci bersih
Aquades
5 mL
Tanah
NaOH 1 M

 

·Prosedur kerja

A. Membuat Indikator dari kembang sepatu

1.      Potong mahkota bunga kecil-kecil.

2.      Keringkan potongan bunga dalam oven pada suhu 50ºC selama 15 menit.

3.      Masukan bunga yang kering dalam botolkaca dan tambahkan alkohol 70% sampai ± 0,5 cm di atas bunga lalu didiamkan semalam.

4.      Saring larutan untuk mendapatkan filtratnya yaitu ekstrak bunga. Ekstrak bunga tersebut merupakan indikator cair.

5.      Masukan indikator cair dalam botol kaca lain dan disimpan dalam kulkas sampai akan digunakan

B. Pengujian pH larutan

1.    Sediakan5 buah tabung reaksi.

2.    Larutkan 1 sdt tanah dalam 5 mL akudes. Saring larutan tanah dengan kertas saring, dan masukan larutan ke tabung reaksi masing-masing, beri label (ulangan 1-5).

3.    Celupkan kertas pH indikator dalam larutan, cocokan warna kertas dengan warna pH.

4.    Bandingkan hasil pengujian dengan menggunakan soil pH meter.

5.    Larutkan kembali 1 sdt tanah dalam 5 mL akuades, saring dalam labu erlenmeyer. Masukan 5 tetes indikator alami.

6.    Masukan 50 mL NaOH 1 M ke dalam buret.

7.    Titrasi larutan tanah dalam labu erlenmeyer menggunakan larutan NaOH dalam buret.

8.    Catat volume NaOH yang digunakan untuk mentitrasi larutan tanah hingga berubah warna (biru/hijau/ungu).

9.    Lengkapi tabel pengamatan berikut.

    

 

 

sifat

Ulangan 1

pH = ………..

 

Ulangan 2

pH = ………..

 

Ulangan 3

pH = ………..

 

Ulangan 4

pH = ………..

 

Ulangan 5

pH = ………..

 

Soil pH meter

pH = ………..

 

Volume NaOH

 

 

 

%d bloggers like this: