Penuntun praktikum kimia pertanian

29 Apr

Praktikum  I

PENGENALAN  ALAT-ALAT    DI  LABORATORIUM

 

Tujuan

Setelah menyelesaikan praktikum ini, mahasiswa dapat menggunakan alat-alat yang umum dipakai di dalam laboratorium kimia, yaitu :

I.  Penggunaan pembakar gas

1. Mengetahui bagian-bagian dan fungsinya masing-masing

2. Mengetahui prosedur yang tepat untuk menggunakan pembakar gas

3. Dapat mengatasi dan memperbaiki masalah-masalah yang terjadi pada pembakar gas seperti api yang meletup-letup, api yang berwarna, dan terbakarnya gas pada spud (lubang kecil)

4. Dapat mengubah-ubah bentuk api

II.  Penggunaan alat-alat gelas

1.      Mengetahui nama dan kegunaan alat-alat gelas yang umum dipakai di dalam laboratorium

2.      Dapat menggunakan alat-alat tersebut dengan benar

 

 

Landasan Teori

 

Di dalam laboratorium, akan didapatkan berbagai macam alat, mulai dari yang sederhana seperti misalnya alat-alat gelas sampai kepada yang cukup rumit seperti pH meter dan spektrofotometer. Penggunaannya memerlukan keahlian tersendiri seperti spektrometer NMR, kromatografi NMR, kromatografi gas, dll. Alat-alat sederhana di laboratorium tersebut ada yang terbuat dari kaca, plastik, karet, kuarsa, platina, logam, dll. Peralatan tersebut ada yang berfungsi sebagai wadah, alat bantu, dan pengukuran volume dengan berbagai ukuran.

Pembakar merupakan alat bantu untuk memanaskan zat atau larutan. Reaksi pembakaran akan terjadi apabila bahan bakar (gas alam/LPG) bereaksi dengan oksigen dengan bantuan panas. Api dan suhu yang dihasilkan bergantung pada perbandingan bahan bakar dan oksigen yang akan memberikan warna nyala yang berbeda.

Peralatan wadah pengukur volume larutan, ada yang ditera dengan teliti dan ada yang tidak perlu ditera dengan teliti. Peneraan yang sangat teliti dilakukan terhadap alat ukur seperti pipet volumetrik, pipet Mohr, labu takar, dan buret. Pengukuran dengan alat tersebut akan mempengaruhi hasil secara kuantitatif.

Cara penggunaan, pemeliharaan, dan pembacaan miniskus sangat penting. Sebelum digunakan, alat tersebut harus bersih dari pengotor, dibilas dengan larutan yang akan diukur dan harus digunakan dengan cara yang betul. Setelah digunakan harus dicuci, agar larutan tidak menempel pada dinding kaca. Pembacaan miniskus harus sejajar dengan mata. Untuk larutan yang tidak berwarna atau transparan, dibaca miniskus bawahnya, sedangkan larutan berwarna dibaca miniskus atasnya.

Tujuan praktikum ini adalah mengenalkan berbagai jenis alat laboratorium sederhana serta kegunaannya dan sebagai pendahuluan bagi percobaan-percobaan berikutnya.

Hanya alat-alat terpenting yang akan dibicarakan di sini, yaitu :

I.  Alat-alat pemanasan :

Pembakar gas, kaki tiga, segi tiga porselin, kasa, gegep, pemanas air, alat-alat porselin (cawan, pinggan).

Alat-alat pemanasan :

Pembakar gas (gas burner)

Bagian-bagian pentingnya :

a.      Pipa pemasukan gas (pada pembakar teklu, ada pengatur banyaknya gas yang masuk; pada pembakar Bunchen pengatur ini tidak ada, maka pemasukan gas diatur dengan keran pada saluran gas di meja praktikum)

b.      Lubang pemasukan udara

c.       Pipa pencampur gas dan udara

     Macam-macam api gas

Bagian-bagian terpenting dari pembakar gas yaitu :

a.      Pipa pemasukan gas (pada teklu, ada pengatur banyaknya gas masuk; pada pembakar Bunchen tidak ada)

b.      Lubang pemasukan udara

c.       Pipa pencampur gas dan udara

Dengan mengatur pipa pemasukan gas dan lubang pemasukan udara, maka perbandingan pemasukan gas udara dapat diubah-ubah. Api berwarna kuning, bercahaya terang dan berjelaga, akan terbentuk jika banyak gas, sedikit udara. Api ini tidak boleh dipergunakan untuk pemanasan/reaksi, sebab kurang panas dan mengotori alat-alat yang dipanaskan.

Bila gas sedikit dan udara banyak maka terbentuk api tidak bercahaya yang dibedakan menjadi 2 bagian, yaitu kerucut luar dan dalam.

·         Kerucut luar, merupakan api pengoksidasi, berwarna violet dan hampir tidak tampak

·         Kerucut dalam, merupakan api pereduksi, berwarna biru. Pembakar hanya terjadi pada kerucut luar, sedangkan pada kerucut dalam terdapat gas-gas yang belum semua terbakar sehingga dingin.

 

 Kaki tiga   : Digunakan sebagai tungku, dimana di atasnya terletak wadah bahan-bahan yang dipanaskan dan diantara ketiga kakinya tempat api untuk pemanasan

Kasa          :    Digunakan sebagai alat perata panas, sehingga pemanasan zat-zat dalam wadah seperti gelas piala akan menyeluruh

Pembakar spirtus :

                  Digunakan untuk membakar zat atau  memanaskan larutan

Penjepit tabung reaksi :

                  Digunakan untuk menjepit tabung reaksi pada saat pemanasan, atau untuk membantu mengambil kertas saring atau benda lain pada kondisi panas

Segitiga porselin : Digunakan sebagai alat penopang wadah bahan-bahan seperti cawan porselin yang akan dipanaskan di atas kaki tiga

Sudip (spatula)    :  Digunakan sebagai alat untuk mengambil Kristal atau serbuk bahan kimia

 

Penangas air        :  Digunakan untuk pemanasan suatu zat dengan menggunakan uap air

 

II. Alat-alat gelas

Sebelum digunakan, alat-alat gelas harus diperiksa, apakah ada yang cacat, serta perhatikan kebersihannya dengan teliti. Apabila ternyata alat tersebut retak, jangan diteruskan untuk menggunakannya. Kebersihan sangat penting untuk orang yang bekerja di laboratorium. Data yang dihasilkan kadang salah interpretasi bila percobaan dilakukan dalam wadah yang terkontaminasi.

Bersihkan peralatan gelas dengan sabun dan air kran. Gunakan sikat yang sesuai dalam hal ukuran dan kehalusan. Bilas peralatan gelas mula-mula dengan air kran, kemudian satu atau dua kali dengan air demineral. Kadang kala pipet atau buret perlu direndam beberapa lama dalam air sabun atau campuran K2Cr2O7 + H2SO4 bila kotoran sulit dihilangkan. Balikkan peralatan gelas yang bersih di atas sarbet. Jangan mengeringkan peralatan gelas yang ditera dengan teliti dalam oven atau di atas api langsung. Bilaslah peralatan gelas dengan sedikit pelarut atau larutan yang akan digunakan.

Mengeluarkan cairan dari pipet atau buret, jangan terlalu cepat dan jangan terlalu lambat. Jika terlalu cepat, menyebabkan cairan yang menempel di dinding tidak dapat mengimbangi (tertinggal) dari miniskus yang terbaca. Sedangkan jika terlalu lambat menyebabkan waktu percobaan lebih lama.

Kotoran dapat disebabkan oleh lemak atau zat-zat organik lain, dari udara, debu, atau bekas-bekas endapan. Cobalah membersihkannya dengan air, sabun, dan sikat dahulu. Endapan-endapan mungkin perlu dilarutkan dalam asam/basa encer. Kadang-kadang hanya campuran K2Cr2O7 + H2SO4 pekat yang dapat membersihkannya. Kadang-kadang pipet perlu dibersihkan dengan cara ini. Dalam hal ini, serahkanlah alat yang bersangkutan kepada staf laboratorium.

a. Gelas wadah

Botol sebagai wadah pereaksi dibedakan oleh warnanya yaitu botol berwarna (gelap) untuk zat yang tidak tahan cahaya, oksidasi, dll, dan botol tak berwarna. Tutup botol juga bermacam-macam yaitu tutup pipih, datar, paruh, dan tetes. Tutup pipih tidak boleh ditaruh di atas meja, tutup paruh dan pipet tidak boleh diambil. Selain itu mulut wadah juga bermacam-macam yaitu mulut kecil untuk zat yang mudah menguap dan berasap, sedangkan bermulut besar untuk pereaksi lainnya.

 b. Alat-alat untuk mereaksikan zat

Tabung reaksi. Untuk mereaksikan cairan dalam jumlah sedikit,

jika   dilakukan   pengocokan,   tabung   diisi   tidak   lebih   dari

setengahnya. Jika perlu pemanasan, harus dilakukan hati-hati,

tabung dipegang miring.

 

Gelas    piala.    Untuk    mereaksikan   cairan,   memanaskan/

memasak cairan dan membuat  endapan dalam jumlah besar.

Jika memasak cairan, gelas piala ditutup dengan gelas arloji

 

Labu     Erlenmeyer.    Kegunaannya     seperti    gelas    piala,

tetapi tidak digunakan  untuk  membuat endapan  yang perlu

disaring. Erlenmeyer terutama digunakan untuk titrasi.

 

Labu takar.  Merupakan   alat   pengukur   volume yang teliti,

digunakan  untuk  membuat larutan  dari sejumlah zat padat/

cairan   menjadi  konsentrasi   tertentu. Cara  pemakaiannya,

zat    padat   dilarutkan    dalam    gelas    piala    atau    cairan

dimasukan   ke   dalam   labu  takar  dan   ditambah   pelarut.

Sebelum   sampai   tanda   tera, dinding  dalam, di atas tanda

tera dikeringkan dan penambahan pelarut diteruskan dengan

sangat  hati-hati(diteteskan  dengan pipet) sampai miniskus

mencapai  lingkaran   tera. Labu   takar   ditutup dan   isinya

dikocok dengan membalik labu beberapa lama.

 

Buret. Digunakan untuk mengeluarkan cairan dengan volume

sembarang, tetapi tepat. Lubang cerat terisi penuh. Setiap kali

hendak mencatat letak  miniskus, cairan dalam  buret sejajar

mata supaya tidak terjadi kesalahan paralaks. Buret tidak perlu

 diatur supaya miniskus awal 0 atau angka bulat lain.

 c. lain-lain

Gelas  ukur.  Digunakan  untuk  mengukur  volume zat  kimia

dalam   bentuk   cair.   Alat   ini   mempunyai   skala, tersedia

bermacam-macam ukuran. Tidak boleh digunakan mengukur

larutan/pelarut dalam  kondisi  panas.  Perhatikan  meniskus

pada saat pembacaan skala.

Corong.  Biasanya  terbuat  dari  gelas  namun ada juga yang

terbuat dari  plastik. Digunakan  untuk  menolong pada saat

memasukan   cairan   ke   dalam  suatu  wadah  dalam mulut

sempit, seperti: botol, labu ukur, buret, dsb.

Pengaduk gelas. Digunakan untuk mengaduk suatu campuran

Atau   larutan   kimia   pada   waktu   melakukan  reaksi  kimia.

Digunakan juga  untuk  menolong  pada  waktu  menuangkan/

mendekantir cairan dalam proses penyaringan.

Botol   gelas.   Bahan  terbuat  dari  gelas.  Merupakan  botol

tempat penyimpanan larutan.

 

Rak untuk tempat tabung reaksi. Rak terbuat dari kayu atau

logam. Digunakan sebagai tempat meletakan tabung reaksi.

 

 

Kaca Preparat. Digunakan untuk meletakan sampel untuk dilihat

menggunakan mikroskop.

 

Kertas    lakmus.    Merupakan    indikator     berbentuk     kertas

lembaran-lembaran kecil, berwarna merah dan biru. Merupakan

alat untuk mengetahui tingkat keasaman (pH) larutan.

 

Gelas arloji. Terbuat dari gelas. Digunakan untuk tempat zat

yang akan ditimbang.

 

 

Cawan porselen. Digunakan untuk wadah suatu zat yang akan

diuapkan dengan pemanasan.

 

Pipet pasteur (pipet tetes). Digunakan untuk mengambil bahan

berbentuk larutan dalam jumlah yang kecil.


 

Metode Kerja

1. Amatilah alat laboratorium yang terdapat pada meja praktikum. Cocokan nama alat yang tersedia dengan nama pada panduan praktikum.

2. Isilah lembar pengamatan berikut sesuai nama dan kegunaan alat laboratorium dengan tepat.

NO

NAMA  ALAT

UKURAN

KEGUNAAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Praktikum  II

ASAM BASA : PH DAN INDIKATOR

Tujuan

Setelah menyelesaikan praktikum ini, mahasiswa dapat membedakan antara larutan-larutan Asam maupun basa yang sering di jumpai dalam kehidupan sehari-hari.

 

Landasan Teori

Landasan teori yang dipakai untuk melakukan praktikum ini adalah:
pada banyak ada tidaknya ion H (untuk asam) dan ion OH (untuk basa)
dalam suatu zat  serta derajat ionisasinya.

Pada tahun 1884 Svante Arhenius mengemukakan teori tentang asam dan basa yang dikenal sebagai teori asam basa Arhenius. Menurutnya, asam adalah suatu zat yang apabila dilarutkan dalam air akan menghasilkan ion H+ diman ion tersebut merupakan satu-satunya ion yang ada dalam larutan. Basa merupakan zat yang apabila di larutkan dalam air akan terionisasi menghasilkan ion OH-, dan ion tetsebut meerupakan ion satu-satunya yang ada di dalam larutan. 

Pada tahun 1923, ahli kimia Denmark bernama J.N Bronsted dan ahli kimia Inggris bernama T.N Lowry mengemukakan teori asam basa Broansted-Lowry, yang berbunyi suatu zat pemberi proton (proton donor) disebut asam dan suatu zat penerima poton (proton asptor) di sebut basa. Dari definisi tersebut maka suatu asam setelah melepas proton akan membentuk basa konjugasi dari asam tersebut. Demikian pula dengan basa, setelah menerima proton akan membentuk asam konjugasi dari basa tersebut.
        Pada tahun 1932 G.N lewis menyatakan teori yang berbunyi basa dalah zat yang memiliki satu satu atau lebih pasangan elektron bebas yang dapat di berikan kepada zat lain sehingga terbentuk ikatan kovalen koordinasi, sedangkan asam adalah zat yang dapat menerima pasangan elektron tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari akan ditemukan senyawa asam dan basa. Ketika mencicipi rasa jeruk maka akan terasa asam karena jeruk mengandung asam. Sedangkan ketika mencicipi sampo maka akan terasa pahit karena sampo mengandung basa. Namun sangat tidak baik apabila untuk mengenali sifat asam atau basa dengan mencicipinya karena mungkin saja zat tersebut mengandung racun atau zat yang berbahaya.

Sifat asam dan basa suatu zat dapat diketahui menggunakan sebuah indikator. Indikator yang sering digunakan antara lain kertas lakmus, fenolftalein, metil merah dan brom timol biru. Indikator tersebut akan memberikan perubahan warna jika ditambahkan larutan asam atau basa. Indikator ini biasanya dikenal sebagai indikator sintetis. Dalam pembelajaran kimia khususnya materi asam dan basa indikator derajat keasaman diperlukan untuk mengetahui pH suatu larutan.

Penentuan sifat asam basa menggunakan indikator sintesis dapat diganti dengan alternatif lain berupa indikator pH dari bahan-bahan alam atau tanaman. Beberapa bahan alam yang dapat digunakan sebagai indikator alami yaitu kembang sepatu (Hibiscus rosasinensis),  bunga tapak dara (Vinca rosea U), bunga jengger ayam (Celosia cristata L), dan bunga tembelekan (Lantara camara L) dengan didasari pemikiran bahwa zat warna pada tanaman merupakan senyawa organik berwarna seperti dimiliki oleh indikator sintetis.

 

Metode Kerja

 

Alat dan bahan

• Alat
Pisau

Papan pengiris

Botol kaca

Pipet tetes
Tabung reaksi dan rak tabung reaksi

• Bahan :

Kertas lakmus merah dan biru

Kertas label

Kertas saring
Kembang sepatu, diambil mahkotanya, dicuci bersih
Larutan air jeruk
5 mL
Larutan air garam
5 mL
Aquades
5 mL
Larutan air soda
(sabun, detergen, soda kue) 5 mL
Larutan air kapur
5mL
Cuka
  5 mL
Larutan air gula
5 mL
Coca
cola 5 mL
Larutan tanah 5 mL

·Prosedur kerja

A. Membuat Indikator dari kembang sepatu

1.      Potong mahkota bunga kecil-kecil.

2.      Keringkan potongan bunga dalam oven pada suhu 50ºC selama 15 menit.

3.      Masukan bunga yang kering dalam botolkaca dan tambahkan alkohol 70% sampai ± 0,5 cm di atas bunga lalu didiamkan semalam.

4.      Saring larutan untuk mendapatkan filtratnya yaitu ekstrak bunga. Ekstrak bunga tersebut merupakan indikator cair.

5.      Masukan indikator cair dalam botol kaca lain dan disimpan dalam kulkas sampai akan digunakan

B. Pengujian pH larutan

1.    Sediakan10 buah tabung reaksi.

2.    Saring semua larutan dengan kertas saring, dan masukan larutan ke tabung reaksi masing-masing, beri label.

3.    Kami mencelupkan kertas lakmus merah dan biru pada laruutan.

4.    Celupkan kertas lakmus dalam setiap larutan. Catat perubahan warna yang terjadi dalam tabel pengujian.

5.    Tetes setiap larutan dengan indikator, amati dan catat perubahan warna yang terjadi dalam tabel pengujian.

     Tabel pengujian menggunakan kertas lakmus.

Tabung

Warna lakmus

sifat

1

 

 

2

 

 

3

 

 

4

 

 

5

 

 

6

 

 

7

 

 

8

 

 

9

 

 

10

 

 

    

Tabel pengujian menggunakan indikator alami.

Tabung

Warna sebelum

Warna sesudah

sifat

1

 

 

 

2

 

 

 

3

 

 

 

4

 

 

 

5

 

 

 

6

 

 

 

7

 

 

 

8

 

 

 

9

 

 

 

10

 

 

 

 


 

Praktikum  III

REAKSI  REDOKS

Tujuan

Setelah menyelesaikan praktikum ini, mahasiswa dapatmemahami reaksi reduksi dan oksidasi (redoks) pada beberapa logam dan larutan.

Landasan Teori

Menurut Martoyo (1994: 192) “Reaksi dalam suasana asam (H+) berbeda dengan redoks dalam suasana basa (OH). Persamaan reaksi redoks  dap[at dilakukan dengan dua cara yaitu ½ (setengah) reaksi atau metode bilangan oksidasi. Dalam reaksi kimia yang terjadi pada sel elektrokimia berlangsung spontan dan menghasilkan arus listrik yang sangat berguna”

Purba mengatakan (1994: 203) “reaksi kimia yang disertai dengan  perubahan bilangan oksidasi disebut reaksi redoks. Reduksi adalah penyerapan elektron atau penurunan bilangan oksidasi dan oksidasi adalah penangkapan elektron atau kenaikan bilangan oksidasi dan pelepasan elektron.”

Menurut Parning (2001: 105) “Sel eletrolisis ion positif (kation) dari larutan elektrolit akan tertarik ke katoda, selanjutnya mengalami reduksi menjadi atom netral. Ion negatif (anion) akan tertarik ke anoda selanjutnya teroksidasi sehingga menjadi atom netral. Pada elektrolisi, reaksi terjadi pada anoda dan reaksi reduksi terjadi pada katoda yang berarti sama seperti sevolta.”

Menurut Sutresna (1994: 122) “Reaksi redoks adalah reaksi penerima dan pelepasan elektron (adanya transfer elektron). Sedangkan reaksi oksidasi adalah pelepasan elektron (reaksi terjadinya kenaikan biloks).”

 

Metode Kerja

 

Alat dan Bahan :

  1. Gelas kimia 250 ml.
  2. Logam seng.
  3. Paku besi.
  4. Larutan CuSO4 1 M.

Cara Kerja :

  1. Siapkan alat dan bahan.
  2. Masukkan larutan CuSO4 sebanyak 100 ml ke dalam gelas kimia 250 ml.
  3. Siapkan sepotong logam seng berukuran ± 4×2 cm yang telah diamplas bersih. Kemudian masukkan ke dalam larutan CuSO4.
  4. Amati perubahan yang terjadi.
  5. Lakukan kembali percobaan seperti di atas dengan menggunakan logam besi.

 

 

%d bloggers like this: